Mohon Restu Kahyangan

 

ci

Gemeratak genting yang asik bercengkerama dengan hujan di pagi buta pada bulan ke empat aku masuk Sekolah Menengah Kejuruan, sungguh akan jadi sejarah paling berpengaruh pada sudut pandangku kelak. Jarak rumah menuju sekolah yang hanya sekitar tujuh belas kilometer menjadikan bangun pagi adalah keharusan. Di dapur, mama sedang asik memasak untuk sarapan. Dengan langkah berat di tambah dingin hujan yang menggigit, semakin memalaskan diri untuk pergi ke sekolah belum lagi harus naik bus yang belum tentu bisa tepat waktu. “Ma, hujan deser banget males ah.” Keluhku sambil menyalakan lampu kamar mandi, “Ee lha udah pinter to? Malahan engga usah sekolah kalau udah pinter.” Sambil terbelalak dengan nada mama yang sedikit kesal aku segera mandi dan bersiap karena tidak berani menjawab perkataan mama, syukurlah karena hari ini jumat ada sedikit hiburan karena akan pulang lebih awal.

Tidak sampai satu jam aku sudah bersiap berangkat, dengan perut terisi penuh masakan mama yang super lezat meskipun mata berembun karena aku masih mengantuk sambil tak henti menguap. Syukurlah busnya tepat waktu, cukup dua puluh menit sampailah di sekolahku SMK Negeri 1 Purwodadi. Aku berjalan perlahan menikmati udara yang benar-benar segar ketika melintasi lorong kelas di samping lapangan upacara, dari kejauhan nampak seorang gadis berjalan dengan seragam pramuka yang sedikit ketat menampilkan kerampingan dan keanggunannya berjalan, hingga akhirnya berpaprasan dan dia tersenyum, rambut panjang nan lurus berkilauan menyibak aroma harum dan lenting bibirnya begitu lembut. Ya, jelas sekali dia menyapaku dengan cara yang sempurna, tapi siapa dia?

Hari ini menyenangkan sekali, pulang lebih awal di tambah ulangan yang di undur minggu depan membuat kelas kami sangat gaduh menanti bel pulang. Teman sebangku ku Witan sangat antusias mendengar ceritaku tentang gadis manis yang tersenyum padaku pagi tadi, “wah bagus itu bagus, baru masuk udah ada yang naksir” katanya tertawa sambil menepuk pundakku.

“ah kita kan anak baru. Mana mungkin, sangat enggak mungkin. Siapa tahu dia memang anak yang baik, jadi ya tersenyum setiap ketemu siapa saja.”

“ah kamu ini naif banget. Memangnya kenapa kamu sampai mengkerut begitu?”

“sekolah kita kan roknya panjang, nah aku melihat rok yang di kenakannya tidak menutupi mata kaki. Biasanya kalau sudah demikian dia adalah kakak kelas kita Wit, di tambah sepatu yang di pakainya juga sedikit lusuh, memang itu tidak menjamin tapi sampai saat ini aku belum pernah bertemu teman seangkatan yang roknya tidak sepanjang mata kaki.” Kami asik mengobrol sambil berjalan menuju kantin “GAUL” kantin favorit kami yang kebetulan dekat

dengan ruang 11 yang kami tempati, dan disanalah aku kembali bertatap muka dengannya, meskipun dia tidak tersenyum. Sebelum pandangan kami berpisah dia menoleh, hingga mata bulat kelereng itu menghilang di balik tembok kantin.

Bulan November yang sangat basah telah terlewat dan awal Desember menyambut dengan Ulangan Semester Gasal yang dilaksanakan selama tujuh hari. Tempat duduk juga sudah di atur, kelas 11 duduk satu bangku dengan kelas 10. Kelasku 10TKJ1(Teknik Komputer Jaringan 1) satu ruang dengan 11 AP1(Administrasi Perkantoran 1) yang semuanya adalah perempuan, sudah abaikan saja rasa gugup, kerjakan saja tesnya dan dapatkan nilai yang baik! itulah isi kepalaku sesudah menulis nama di lembar kerja siswa. Untunglah kepalaku tidak sampai meledak mengerjakan soal Kima yang sangat sulit, waktu tes kurang 10 menit aku sudah selesai dan tinggal menunggu bel berbunyi. Akan tetapi sesuatu manarik mataku yaitu gadis manis yang waktu itu ternyata satu ruangan, dan dia duduk di sebelah kiri bangku nomor dua baris pertama dari kananku. Aku sampai di tegur mbak Maya yang duduk satu bangku denganku “dik, kamu ini lihat apa? Itu sampai melongo, awas kalau ngiler” , aku tidak bisa menjawab apa-apa karena masih berkutat dengan isi kepala yang antara prasangka atau memang itu dia.

Keesokan harinya adalah hari terakhir ulangan semester gasal, dan aku benar-benar yakin bahwa kakak manis itu adalah orangnya. Aku semakin akrab dengan mbak Maya yang duduk sebangku denganku, melihat “kerja sama” yang terjadi antara satu dengan yang lainnya selama mengerjakan tes, menunjukan bahwa kelas mbak Maya pasti sangat dekat satu dengan yang lain. Kami mengobrol panjang lebar di sisa waktu yang cukup lama dan akhirnya aku mendapat alamat e-mail facebook mbak Maya, yang tentu akan sangat membantuku mencari siapa si kakak manis yang menspesialkan diri di mataku.

Nasibku benar-benar sangat baik, atau memang aku adalah orang paling beruntung di seluruh semseta saat itu. Tidak sulit mencari tahu siapa dan bagaimana dia, berkat facebook mbak Maya aku tahu semua tentang dia, dan mulailah perkenalan singkat kami. “hai mbak, aku 10TKJ 1 yang satu ruang tes sama kamu kemarin, heh aku lihat lho kemarin kamu nyontek sana sini, ahaha” balasannya pun begitu hangat dan ramah

“heh iya po? Wah pantesan kok pernah lihat. Haha wajar lah dik, oh iya kalau ketemu lagi panggil aku Sena ya”

“oke mbak Sena, salam kenal ya aku Sigit.” Dengan pembukaan yang begitu akrab, obrolan kami melanglang buana sampai kemana-mana. Aku tidak tahan apabila obrolan harus berakhir, aku beranikan untuk meminta nomer handphonenya, namun jawaban yang cukup berani dan sangat menantang adalah “eh enggak boleh, kalau mau datang ke kelasku ruang 23. Oke” dan

facebooknya offline seketika. Entah kenapa penasaran dan keberaniaan tiba-tiba bermunculan, yang semulanya aku adalah anak yang pemalu dan sangat menerima keadaan menjadi sangat percaya diri dan berani bicara. Sering aku berjumpa dengan mbak Sena, saat di kantin aku duduk di sebelahnya ketia dia sedang bermain-main dengan sedotan minuman, kami mengobrol mulai dari hobi, kegiatan di kelas sampai merencanakan “kencan”, tapi ketika aku meminta nomor handphonenya jawabannya masih sama “eh enggak boleh, kalau mau datang ke kelasku ruang 23. Oke” dia beranjak membayar minuman dan meninggalkan kantin sambil tersenyum geli padaku. Aku benar-benar tidak faham apa yang menghiasi isi kepala gadis berpipi tembem itu hingga muncul kalimat tersebut.

Mendekati ulangan semester genap, guru-guru sering rapat tiba-tiba, dan kami hanya di tinggali tugas, tidak beda dengan kelas mbak Sena, saat membuka facebook lewat handphone, ada pesan darinya sekitar 1 menit yang lalu yang berisi “dek kelasku di tinggal guru rapat”. Aku mengajak Witan sahabatku, awalnya dia menolak “ AP 1? Kelas 11? Ah engga ah, ruang 21 sampai 26 itu kompleks anak AP, cewek semua malu aku.”

“ayolaah Wit, kamu nunggu aja di depan kelas biar aku aja yang masuk, bentar kok ya kumohon.” Witan menatap mataku dan dahinya berkerut.

“oke baiklah, kamu juga sepertinya serius, ayo sekarang dan cepet !” Dadaku benar-benar ingin meledak karena anak ingusan seperti kami berdua berjalan di antara kakak-kakak cantik yang duduk di kanan kiri lorong ruang 21 sampai 26. “kita kayaknya paling bau kencur deh di sini” keluh Witan sambil menarik lengan bajuku, “biarin se enggaknya kita anak kencur yang berani” kataku sambil berpaling dan melongok ke ruang 23 yang ternyata sangat ramai. Kelas yang sangat bersih dan sangat rapi, penuh dengan hiasan dan kakak-kakak yang ramah karena mereka tahu kami adalah salah satu anak TKJ 1 yang duduk satu bangku ketika tes kemarin.

“Sini hpmu, sesuai janji ya kan?” tangan mbak Sena melambai dan menadah di depanku sambil bersandar di depan pintu.

“ini mbak, temen-temenmu baik-baik ya nggak lupa sama aku, dan mereka engga ngejek kalau aku nyariin kamu. Aku awalnya ngga mau kesini takut dipoyoki sama temen-temenmu”

“ha? Ngapain juga, apalagi yang datang adik kelas ganteng-ganteng pula, kami jadi merasa di hormati sebagai kakak kelas karena kita bisa akrab. Ini udah, sms nanti ya kalau sudah sampai di rumah.” Tutur kataya lembut dan berlogat khas, dia memberikan handphoneku dan Wita mengajak untuk kembali ke kelas. Awal yang baik, sangat baik bagi anak yang baru berseragam abu-abu seperti aku ini, bisa berkenalan dengan gadis sebaik itu, di tambah dia adalah kakak kelas, yang notabene kakak kelas biasanya di segani oleh adik kelasnya.

Ketertarikan yang muncul kurang dari 5 detik merasuk menjelma rindu, tidak terasa sudah tiga bulan sejak aku megenalnya kedekatan kami semakin nyata. Paduan suara SMKku yang kekurangan suara laki-laki kebingungan mencari kesana-sini siapa yang mau bergabung karena memang SMKku dulu adalah “mantan” SMEA(Sekolah Menengah Ekonomi Atas) sehingga di dominasi anak perempuan. Kealasku dengan penghuni anak laki-laki paling banyak menjadi sasaran pak Kukun yang sedang kebingungan, aku dan ke tiga temanku dengan suka rela ikut karena aku memang gemar bernyanyi meski hanya di kamar mandi. Ternyata mbak Sena juga ikut, dan aku berdiri tepat di belakangnya ketika berada di dalam formasi paduan suara yang membawakan 6 lagu termasuk lagu “Getuk” yang menjadi memoar pertemuan kami.

Tidak ada hari tanpa dirinya dan sebaliknya, kami saling berbagi cerita dan kisah-kisah khayal menghiasi celoteh kami setiap hari. Tidak sadar Ulangan Semester Genap terlewat namun kelasku tidak lagi dengan 11 AP1, suasana tes menjadi berbeda dan terasa kaku, ternyata tidak hanya aku yang merasakan demikian. Semua temanku merasakan hal yang sama, ntah kenapa kenyamanan bersama kakak kelas AP begitu dalam di hati kami.

Aku dan Sena terlarut dalam suasana kasih tanpa ikatan sampai punya panggilan unik yaiku “Pakke” sebutan untuk memanggilku dan “Mbokke” sebutanku untuk memanggilnya, kami berusaha menyamankan satu sama lain dan meyakinkan bahwa kami berdua adalah satu-satunya. Satu minggu penuh adalah kegiatan class meeting, aku sama sekali tidak berpartisipasi dalam bentuk kegiatan apapun karena bersama Sena adalah pemborosan waktu yang begitu berharga.

Suatu ketika aku mengajak Wita ke kantin untuk menemaniku bertemu Sena dan teman-teman kelasnya. Dia mengajakku pulang bersama, tapi sebelumnya dia ingin ketemuan karena sebelum dan sesudah tes kemarin kami memang belum pernah bertemu sama sekali. Sena dan aku duduk berdua di atas meja pingpong yang sudah tidak di gunakan, tangan kirinya memegang gelas berisi es sirup dengan dua sedotan untuk aku dan dia. Dia begitu gembira seperti biasa, belum pernah aku melihat matanya begitu bersinar dan senyumnya begitu manis. Ada sesuatu yang menggangu pandanganku “Mbok, cincinnya baru ya, ciee” kuberanikan bertanya, meskipun tidak asing wanita mengenakan perhiasaan, tapi ntah mengapa pikiranku sangat terganggu dengan keberadaan cincin yang melingkar malas di jemarinya..

“oh ini eh engga ini yang ngasih ibuk kok Pak” senyumnya memudar sembari jawabannya terbata.

“dari ibuk? Yang bener? Coba lihat sini” kuraih tangannnya, meskipun dia enggan tapi aku tetap memaksa, perasaanku semakin tidak karuan.

“Oh dari ibuk to? Ibuk belinya pasti sama kamu kan?” air matanya terbendung oleh senyum pahit. Di bagian lingkaran dalam cincin terukir nama “SENA”, biasanya kalau begini pasti ada pasangannya, walaupun tidak selalu demikian.

“Pakke . . .” air matanya turun dan berbaring di atas pipi merah mudanya

“Paling susah itu menerima kenyataan walaupun memang kita kadang harus memaksakan diri untuk itu”

“aku pakainya cuma ke sekolah sama waktu ada ibukku tok kok” memang benar, dia sudah lama memakai cincin itu tapi tidak selalu dikenakan, karena saat aku melepas cincin itu tidak ada bekas di jari manis kanannya. Menunjukan baik cincin maupun Sena sama-sama enggan untuk bertemu.

“Aku yakin Pakke engga ada wanita yang bisa mengalihkan perhatianmu, memang aku tahu tapi aku engga bisa bohong kalau kita memang engga ada ikatan apa-apa. Malam itu aku di lamar oleh laki-laki kaya yang bekerja di jakarta, ternyata dia adalah anak dari teman bapak dan ibuku. Mereka bertanya apa aku sudah punya pacar, aku jawab belum, dan seminggu setelahnya kami bertunangan.” Dadaku sesak bagai di hantam bola meriam, padahal keesokan harinya saat penerimaan raport aku berencana menyatakan perasaanku sekaligus berkenalan dengan orang tuanya, namun semua simulasi yang sudah aku pikirkan matang-matang hanyalah fantasi belaka.

“Kenapa kamu engga menolak? Kenapa! Aku tahu kita sudah lama bersama, dan aku mengulur waktu karena ingin kamu dan aku benar-benar saling mengenal, akan jadi kesalahan besar kalau aku tergesa-gesa”

“enggak !” bantahnya sambil turun dari meja dan berlari menuju parkiran motor, meninggalkan sekolah dengan kaca helm berembun. Sejenak dia menoleh sambil tersenyum dengan menahan segalon air mata.

Ke esokan harinya kami bertemu di depan perpustakaan, karena jam sekolah sudah usai dan semua orang sudah pulang kecuali kami, di tambah hujan deras mengguyur kota Purwodadi selama hampir lima jam, membuat kami betah berlama-lama. Dia meminta maaf atas sikapnya kemarin dan ada tamparan susulan yang tidak akan pernah aku lupakan “ Kamu pria idaman wanita Pak, tapi sayang kamu tidak sadar kalau aku wanita yang rapuh yang selalu memujamu tapi tidak pernah kau ucapi … Cintamu…” kepalaku bersandar di pundakknya dan terasa sangat teduh, baru kali ini ada wanita yang bisa membuatku senyaman ini selain Ibuku. “aku terlambat, sangat terlambat. Aku engga bisa berhenti memaki diriku atas kehilanganmu, tadi malam tunanganmu chattingan sama aku, katanya kamu suruh jujur sama orang tuamu, masalah pertunangan itu uru—” belum selesai berkata kata, Sena memegang pipku dan menatapku dengan air mata mengucur deras.

“Aku mencintaimu pakke ! sangat ! akan aku lakukan apapun demi kamu ! tapi aku engga sanggup menolak keinginan ibuku! Aku engga sanggup pakke! Walaupun pertunanganku bisa batal tapi ibuku akan sangat-sangat sakit hati karena beliau sudah berjanji pada orang tua tunanganku untuk sesegera mungkin menikahkan kami, segala persiapan sudah beres, walaupun aku sangat benci akan tetapi aku berusaha bahagia demi ibuku, aku engga bisa melakukan apapun kecuali berkorban untukknya, untuk ibuku. Aku rela Cintaku musnah asal ibuku bahagia. Aku sungguh minta maaf padamu Pakke, cinta sejatiku” tak henti-hentinya aku mengusap air mata dan mengecup keningnya, dia memelukku erat sampai seragamku basah kuyup oleh air mata hangatnya. Aku belum bisa merasakan jatuh cinta lagi sejak saat itu, jatuh cinta yang benar-benar cinta. Kebencian dan kekecewaan tumpah ruah setiap malam, “kenapa, kenapa, kenapa, dan kenapa” aku kehilangan, banyak yang hilang terutama tingkat kesadaranku yang paling tinggi. Kami tidak pernah komunikasi apalagi bertemu sejak hujan menjelang Ujian Nasional tersebut. Tumbuh kebencian yang sangat padanya, tapi cinta yang sangat itu juga masih menetap dan meringkuk memenuhi relung hati. Memasuki semester gasal kelas 12 semangatku semakin lenyap ketika aku mendapat pesan singkat darinya “Pakke minggu depan aku nikah, kalau kamu sempet datang ya.” Panggilan itu . . . kalimatnya sungguh mencerminkan betapa menderita perasaannya. Wita yang membaca pesan itu dengan congkak berkata “biar aku datang untuk melayat !”. Empati dari sahabatku yang ikut membenci setengah mati, walaupun kami tahu itu bukan pilihannya. Cinta kami di tutup dengan perkabungan abadi. Beberapa tahun berlalu dan aku justru bersyukur di pertemukan dengan wanita seindah itu. Sena ingin bilang bahwa keyakinan diri adalah keharusan, aku sadar bahwa aku terlalu cepat menyerah dan inilah akibatnya. Apabila keyakinan dengan seseorang yang benar-benar kita cintai, berjuanglah meskipun melakukan hal gila di luar nalar, tapi di situlah cinta akan terdefinisikan menurut insan masing-masing. Percayalah bahwa tidak akan ada yang sia-sia. Semangatku semakin menyala-nyala setelah menyadari hal ini, bahwa menyerah hanya akan menambah beban pikulan dimasa mendatang.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s